Manajemen Pondok Pesantren (Penelitian di Pondok Pesantren Modern Al-Bayan dan Pondok Pesantren Salafi Riyadussholihin).

Authors

  • Muliawanto Mulianto

DOI:

https://doi.org/10.55171/jad.v6i1.296

Abstract

Dalam sejarahnya, tidak bisa dipungkiri, bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sudah “mendarah daging” di Indonesia. Sejarah pendidikan di Indonesia mencatat, bahwa pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Bahkan Nurcholis Madjid berpendapat bahwa pesantren tidak hanya identik dengan makna keIslaman, tetapi juga mengandung makna keaslian (indigenous) Indonesia, sebab keberadaannya mulai dikenal di bumi Nusantara pada periode abad ke 13-17 M, dan di Jawa pada abad ke 15-16 M. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan yang diteliti sebagai berikut: 1. Bagaimana manajemen di pondok pesantren modern Al-Bayan dan manajemen di pondok pesantren salafi Riyadussholihin? 2. Adakah pengaruh manajemen di pondok pesantren modern Al-Bayan dan manajemen di pondok pesantren salafi Riyadussholihin dengan peningkatan mutu pendidikan Islam? 3. Bagaimana pelaksananaan Perbandingan manajemen di pondok pesantren modern Al-Bayan  dan pondok pesantren Salafi Riyadussholihin? Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Untuk mengetahui manajemen di pondok pesantren modern Al-Bayan dan manajemen di pondok pesantren salafi Riyadussholihin. 2. Untuk mengetahui pengaruh manajemen di pondok pesantren modern Al-Bayan dan manajemen di pondok pesantren salafi Riyadussholihin dengan peningkatan mutu pendidikan Islam? 3. Untuk mengetahui Perbandingan manajemen di pesantren modern Al-Bayan  dan pondok pesantren Salafi Riyadussholihin? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif komparatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi. Dengan demikian bahwa implementasi manajemen di Pondok Pesantren Modern Al-Bayan dan Pondok Pesantren Salafi Riyadusshalihin yang dilaksanakan oleh Pimpian Pondok Pesantren meliputi, 1. Proses Belajar Mengajar, 2. Perencanaan Program Sekolah, 3. Pengelolaan Kurikulum, 4. Pengelolaan Ketenagaan, 5. Pengelolaan Peralatan dan Perlengkapan, 6. Pengelolaan Keuangan, 7. Pelayanan Siswa, 8. Hubungan Pondok dengan Masyarakat, 9. Pengelolaan Iklim Pondok adalah cukup memadai

References

Departemen Agama R.I. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Total Quality Manajemen di Madrasah, (Jakarta: 2002).

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), h. 281.

Fasli Jalal dan Dedi Supriyadi, Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah Cet-1, (Yogyakarta: Adicita Karya Sentosa Nusa, 2001).

Imam Syafi’I, Mengoptimalkan Potensi Santri; Potensi Santri, Intelektual dan Emosional, (Jakarta: Pustaka Mutiara, 2008).

Khamami Zada dkk, ”Intelektualisme Pesantren”, (Jakarta: Diva Pustaka. 2003).

M. Sulthon dan Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok Pesantren Dalam Perspektif Global, Cet-1 (Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2006).

Masyhud, Sulthon dan Khusnurdilo, ”Manajemen Pondok Pesantren”, (Jakarta: Diva Pustaka. 2003).

Sa’id Aqiel Siraj, “Pesantren Masa Depan”, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999).

Syaifullah Yusuf, “Melahirkan Ilmuwan-Ulama: Tanggungjawab Ganda Pesantren di Era Kesejagatan”, pengantar dalam Babun Suharto, “Dari Pesantren untuk Umat”, (Surabaya: IMTIYAZ, 2011).

Issue

Section

Artikel